Dalam Masalah Punya Hutang Dalam Jumlah Besar..?

PUNYA HUTANG DALAM JUMLAH BESAR?

Bismillah, Assalamualaikum saudara - saudaraku yang menjalankan ibadah puasa dan teman - teman pembaca blog ini. Semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk kalian semua. Kali ini saya mau sedikit berbagi pengalaman ketika bertemu 2 teman SMP saya yang sudah bertahun - tahun tidak bertemu, yah selama ini kami berkomunikasi hanya melalui media facebook atau whatsapp. Suatu hari kami berinisiatif untuk mengadakan pertemuan dan disepakati lokasinya adalah titik tengah dari masing - masing tempat tinggal kita (kayaknya sih), saya tinggal di Ciganjur (Jaksel), R tinggal di Jalan Juanda (Depok) dan D  tinggal di Ciracas. Daaaaan, kami sepakat bertemu di Cibubur, atas rekomendasi D kami bertemu malam hari di tempat makan ayam bakar gudeg.

Sampailah hari dimana kita sepakat bertemu, ditemenin hujan deres masing - masing dari kami berusaha untuk tidak menggunakan jam orang Indonesia alias jam karet atau bisa dibilang telat kalau dateng. Sesampainya disana R mengabari bahwa dia sudah tiba duluan, kemudian saya tiba 7 menit dari waktu yang sudah disepakati. Saya dengan R berbincang ringan dari menanyakan kabar keluarga, kesibukan sekarang dan anak masing - masing sampai ngobroli kopi. Yes! Kopi, jujur 2018 ini saya menjadi peminum kopi yang tadinya sangat jarang sekali meminumnya. Dengan pengetahuan kopi saya yang terbatas (sebenarnya sih copass kata - kata dari teman pebisnis kopi yang pernah disampaikan ke saya) saya sampaikan kepada R.

30 menit kemudian si D datang, saya dengan R sambil nunggu dia datang sudah menghabiskan 1 paket nasi gudeg,1 teh anget manis dan 2 es jeruk dengan tambahan tumis tempe (saya penggemar tempe, jadi ada sajian tempe ya saya gadoin). Tadinya niat ketika D datang, kami mau pulang aja, hahaha...

Ditengah obrolan kami ber 3, salah satu dari mereka bertanya pertanyaan menarik
"Rif, elo masih jadi Polisi kan?"
"Eh iya! Elo bukannya Polisi ya? Gue liat di Sosial Media lo suka mosting - mosting perencanaan keuangan"

YAK! saya masih menjalani profesi sebagai anggota kepolisian dan sayapun berprofesi sebagai Konsultan Keuangan Sistem Syariah secara profesional. Sekalian saja saya bagi pengetahuan saya tentang perencanaan keuangan, salah satunya adalah mengenai Waris dan Hutang. Tidak dapat dipungkiri salah satu atau kedua hal itu akan diberikan kepada ahli waris ketika kita sudah tutup usia. Masalahnya adalah porsinya lebih besar mana? Banyakan warisannya atau hutangnya?

Kalian pasti sepakat alangkah baiknya kita meninggalkan warisan daripada hutang. Warisan bisa dalam bentuk apa saja, contohnya harta, ilmu bermanfaat, pengalaman hidup dll. Menurut saya sangat penting untuk meninggalkan warisan, terutama saya sebagai seorang laki - laki, seorang kepala keluarga dan sebagai tulang punggung keluarga. Sebagai seorang anggota bhayangkara yang menangani suatu tindak pidana khusus, saya diikuti oleh resiko yang cukup besar. Gimana tidak? Lha wong orang mau solat subuh bisa saja disiram air keras oleh orang yang tidak dikenal, pengancaman dan intimidasi melalui telephone atau bahkan ke keluarga.

Saya berfikir (pake f ya bukan pake p), kalau seandainya saya ditakdirkan oleh ALLAH SWT menghadap duluan dalam tugas saya bagaimana nasib keluarga saya? Saya mempunyai seorang istri yang sedang mengandung 5 bulan dan 1 orang putri berusia 20 bulan. Kemungkinan terpahit yang akan terjadi adalah istri saya harus menitipkan putri saya ke rumah orang tua saya atau mertua saya dan diapun harus bekerja keras banting tulang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dana anak - anak kami. Apakah saya tega? Gak! Sehingga saya menyiapkan katakanlah uang warisan sebesar 2M kepada istri saya, jadi dengan uang 2M tersebut apakah bermanfaat? Ya! Sangat bermanfaat bahkan menurut pendapat saya akan menjadi Amal Jariah (amal yang terus mengalir walaupun sudah beda alam), Allahualam.. Kira - kira, dengan uang warisan 2M tersebut :
1. Dengan uang 2M tersebut Istri dan anak - anak saya bisa bertahan hidup?
2. Dengan uang 2M tersebut Anak - anak saya bisa masuk sekolah bahkan biaya untuk kuliahnya?
3. Dengan uang 2M tersebut istri saya bisa menggunakannya untuk buka usaha? Katakanlah buka warung sembako. Jualan beras, berasnya laku dijual, dapat untung, untungnya buat mereka makan bertahan hidup atau mengembangkan usahanya.
Kira - kira itu bisa jadi Amal Jariyah kan ya buat saya nanti kalau sudah gak ada? Tapi balik lagi yang menilai ada ALLAH SWT.

Maka dari itu perlunya warisan yang ideal untuk mereka bertahan hidup minimal 5 tahun ke depan. Gimana cara mengetahui warisan yang ideal? Kita perlu mengetahui berapa rata - rata kebutuhan hidup secara keseluruhan yang dikeluarkan sebuah keluarga tiap bulannya, kemudian disetahunkan. Kita juga harus memperhitungkan inflasi dan berapa jangka waktu untuk bekal keluarga. Contoh :
Rata - rata biaya hidup sebuah keluarga di Jakarta menghabiskan biaya sebesar Rp. 7.000.000,-/bulan, kalau disetahunkan menjadi Rp. 84.000.000,-/tahun.
Katakanlah kenaikan inflasi sebesar 8%/tahun.
Warisan yang dikehendaki cukup untuk bertahan hidup keluarganya selama 5 tahun ke depan.

Kalau hitungan secara kasarnya adalah
Rp. 84.000.000,- x 5 tahun = Rp. 220.000.000,-
Rp. 220.000.000,- x 8% = Rp. 17.600.000,-
Jadi Rp. 220.000.000,- + Rp. 17.600.000,- = Rp. 237.600.000,-

Atau kalau mau lebih detail bisa ditotal dengan kenaikan inflasi dari tahun sebelumnya selama 5 tahun ke depan.
Saya tutup obrolan kami bertiga dengan saya membagi - bagikan kopi kepada 2 teman saya tersebut.

Seminggu kemudian R mengajak saya bertemu ternyata dia saat pertama kali saya share tentang warisan, berpikir akan hutang - hutang lumayan besar. Dia mau dibuatkan program apabila R dipanggil oleh ALLAH SWT terlebih dahulu, keluarganya tidak dibebankan hutang - hutangnya.

MEMBUAT PROGRAM WARISAN PROTEKSI HUTANG!



MOTOR SUPER SETIA DAN STRONG AKAN SEGERA PENSIUN
Assalamualaikum,
Bismillah..

Sabtu, 17 Maret 2018
Bengkel Resmi Motor Honda, Cibubur - Jakarta Timur

Jadwal rutin setiap sebulan sekali dihari sabtu atau minggu saya pasti melakukan service kuda besi setia saya hampir selalu di bengkel yang sama. Sangat jarang sekali saya terlambat untuk melakukan service, yah dalam 3 tahun terakhir yang saya ingat betul hanya telat satu kali sehingga terlewat sebulan dikarenakan padatnya aktivitas saya sebagai anggota Polri dan Financial Consultant. Walaupun tempat tinggal saya sekarang berada di Jakarta Selatan, saya sudah nyaman dan percaya kepada teknisi - teknisi terampil di bengkel resmi langganan saya di Cibubur - Jakarta Timur. Agak siangan sedikit datang ke bengkel itu pasti dapet nomer antrian berangka besar.
Pertanyaan yang sama saya terima setiap bulannya ketika menyerahkan kunci untuk antri di bengkel itu "Motor nya apa pak? Plat Nomernya Berapa? Ganti Oli? Olinya yang apa? Apa ada keluhan?"
Daaaannn... dengan jawaban yang samalah saya jawab "Honda Revo, B*****OX, Yup ganti oli yang bagus mbak, cek aja service semua kalau ada yang perlu diganti ganti aja sama yang baru"

Sekian lama menunggu akhirnya si tangguh masuk ke ruang perawatan, sang teknisi bongkar sana bongkar sini dan apabila ada laporan dari teknisinya "pak ini habis.. pak ini kotor... pak ini mesti diganti.."
Saya selalu menjawab "ganti aja sama yang baru, apapun yang perlu diganti.. ganti aja"

Namun hari itu laporan yang kurang mengenakan dari teknisi "pak ini mesti diservice dan diinapkan kurang lebih 3 hari disini karena mesinnya bla.. bla.. bla..(saya gak paham dan sudah gak fokus setelah kalimat rawat inap 3 hari), yah paling Sabtu ini masuk.. Senin baru dikerjain kira Rabu udah selesai, Kamis bisa diambil.
"Kira - kira berapa mas biayanya?"
"Paling minimal Rp. 1.000.000,-, tapi kalau bapak mau pakek pun ini motor masih bisa jalan"
"Yasudah saya pakek dulu mas, soalnya buat transportasi kesana kemari kerja saya"
"Baik pak, saya kerjakan apa yang saya bisa kerjakan"

Dan sampai saat ini masih saya pakai, karena belum sempat service kembali. Sebenarnya banyak sih solusinya :
1. Saya titipkan di bengkel, kemudian selama 3 sampai 4 hari ke depan saya menggunakan transportasi umum / online.
2. Saya beli tunggangan baru, tunggangan lama saya jual.
3. Pake mobil pribadi (jujur saya gak nyaman berangkat kerja menggunakan mobil di Jakarta, MACET! lebih nyaman pakai motor bisa efisien di jalur macet sekalipun)
3. Opsi lain yang belum saya pikirkan.

Dalam perjalanan saya berpikir, motor sudah saya isi dengan pertamax dan sesekali pertamax plus / turbo, gak pernah sekalipun saya isi premium. Oli saya berikan selalu yang terbaik. Apabila ada rusak sedikit pasti sparepart saya ganti baru, segalanya paling bagus. Masih kena service besar juga ya, hmmm.. Sudah masuk usia "tua" motor berarti. Kemudian saya bandingkan diri saya dengan motor, dalam aktivitas kerja saya tergolong sangat padat dengan mobilitas tinggi. Saya yang menungganginya aja kadang kerasa capek banget, apalagi motor itu yah. Kalau motor itu diibaratkan manusia, berarti manusia yang tanggung luar biasa dengan stamina tinggi.

Kalau misal manusia gimana ya?
Sudah dijaga kesehatan sedemikian rupa, kalau ALLAH SWT bilang sakit mau gimana?
Sudah berhati - hati, kalau ALLAH SWT bilang kena kondisi kritis gimana?

Kemudian saya hubungkan dengan program Asuransi Syariah..
Dampak dari motor rusak, imbasnya ya ke si penggunanya. Apapun jadi terhambat dari segi transportasi dan lain - lain
Dampak dari si pencari nafkah / tulang punggung keluarga / Suami / Kepala Keluarga sakit atau kena kondisi kritis gimana? Imbasnya ke keluarganya.

Sama seperti ojek online. Motor rusak, gak bisa narik. Kalau gak bisa narik, gak dapet duit. Kalau gak dapet duit, gak bisa isi deposit, isi bensin, beli beras, jajan anak, makan dan ngerembet ke lain - lainnya.

Bagaimana cara meminimalkan resiko terhadap keluarga yang kena imbasnya?
Selain berdoa kepada ALLAH SWT, buat satu program perencanaan atau tabungan untuk antisipasi hal tersebut. Dengan menabung bukan berarti kita tidak percaya dengan ALLAH SWT? Gak.. Gak gitu..

Ada Jasmani dan Rohani.
Jasmani untuk berusaha / ikhtiar.
Rohani untuk meminta / doa kepada SANG KUASA.

Dengan adanya tabungan, kita mengantisipasi imbas dari "kita gak bisa cari nafkah"
Dengan adanya program asuransi syariah, kita mengantisipasi imbas beban kepada keluarga kita.

Dengan ikhtiar, motor tersebut saya service dengan fasilitas terbaik.
Dengan ikhtirar, kita siapkan tabungan agar imbas tersebut tidak terlalu menjadi beban keluarga.

Dengan doa, kita pasrah dan percaya kepada ALLAH SWT.


Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant Shari'a
081280155666
Follow Instagram

Follow dan Like Fanspage untuk mendapatkan informasi, tulisan dan penawaran investasi menarik.