Bisnis Yang Gak Akan Bikin Rugi Adalah Bisnis Menyenangkan Hati Orang

BY Arief Hidayatullah IN , , , , , , , , , No comments



Assalamualaikum teman - teman pembaca, semoga kalian senantiasa diberikan karunia, rahmat dan dilindungi oleh Allah SWT serta selalu diberikan yang terbaik oleh Nya.

Jakarta,
Kamis, Tanggal 31 Agustus 2017.

Hari itu saya mendapatkan pelajaran berharga dari seorang yang luar biasa menurut saya. Seorang pemilik hotel bintang lima dan apartemen elit di Indonesia. Seorang yang luar biasa mampu mengayomi bawahannya. Seorang kepala keluarga yang sangat dicintai keluarganya.

Bermula pada aktivitas rutin saya untuk berangkat dinas di pagi hari menuju kantor saya yang sesampainya di sana saya melakukan rutinitas yang sudah terjadwal pada hari itu. Kebetulan pada hari itu jadwal saya merapikan administrasi. Agak sedikit bosan saya rasakan pada saat itu karena hampir setiap hari rutinitas saya adalah di depan laptop saja. 

Salah satu senior saya mengajak untuk meninjau lapangan dan berkoordinasi mengenai pekerjaan yang dia tangani, "ah kebetulan banget saya lagi bosan di dalam ruangan, butuh sedikit penyegaran untuk kelapangan" batinku.

Kami dari Jakarta meluncur ke Bekasi untuk koordinasi dan peninjauan lapangan. Setelah selesai semua urusan di Bekasi kami kembali ke Jakarta namun tidak langsung kembali ke kantor melainkan pergi ke daerah Kemayoran yaitu Hotel Swis - Belinn, menemui seorang luar biasa saya maksud diawal tulisan yang biasa kami sapa dengan nama Pak Gede. Sampai saat ini saya mengenal beliau sebagai pengusaha luar biasa sukses yang ramah dan mengayomi.

Sesampainya disana kami selalu disambut dengan hangat oleh beliau, yang saya kagumi adalah walaupun beliau pengusaha luar biasa sukses dengan kekayaan yang fantastis namun tetap mau merangkul kami yang bisa dibilang jauh dari levelnya. Kami banyak ngobrol mengenai usaha dia dan bagaimana dia memberikan banyak "kelebihannya" untuk bisa dirasakan orang banyak. Sampai ada satu percakapan yang membuat saya tercambuk saat ditengah asik kita mengobrol.

"Mas, sampean tau gak bisnis yang gak akan membuat kita rugi?"

saya terdiam tidak menjawab, menunggu kalimat lanjutannya..

"Bisnis yang gak akan membuat kita rugi ya, bisnis untuk menyenangkan hati orang"

"Lah maksudnya gimana Pak Gede?"

"Lah contoh saya ini sering ngajak karyawan saya untuk berlibur bareng - bareng satu kantor, ke Singapore, Bali, Raja Ampat. Kalau saya rutin seperti itu anak - anak (karyawan kantornya) pada seneng gak?"

"Wah itu mah pasti seneng pak dan kerja pada semangat"

"Terus lagi, dengan saya bantu menyumbangkan buaanyak hewan kurban yang kemudian dibagikan ke orang - orang yang berhak. Kira - kira mereka bahagia gak?"

"Yo tentu nu pak!"

"Terus kalau saya bantu tanpa pamrih orang - orang dibawah saya yang saya lakukan secara rutin tanpa putus, kira - kira mereka doain saya yang baik - baik gak? Pasti mereka berdoa :
Ya Allah semoga tahun depan bisa liburan satu kantor lagi.
Ya Allah semoga daging hari ini menjadi berkah buat kami, sehingga kami bisa makan enak.
Terus pasti ada orang yang saya bantu tersebut berdoa buat saya :
Ya Allah moga - moga Pak Gede rejekinya lancar dan tambah banyak serta diberikan kesehatan sehingga bisa kasih saya bantuan terus, bisa nyenengin kami terus..

Nah itu rahasianya mas, Allah mboten sare (baca : Allah gak tidur). Pasti! Dia akan mengabulkan doa orang - orang tersebut yang nanti imbasnya adalah ke saya"

JLEBBBB!

Hati saya terasa sesak, itu cambukan buat saya. Langsung di otak saya mengingat - ingat, apakah saya selama ini sudah membuat hati orang banyak? apakah selama ini saya lancar beramal? Ah boro - boro ke orang lain, di keluarga sendiri saja masih belum puas menyenangkan mereka.

Saya pribadi sampai saat ini masih sangat bersyukur, bisnis dibidang Asuransi yang saya jalani sebagai Financial Consultant di Prudential Syariah berjalan lancar dan karir serta pemasukan income saya naik dari tahun ke tahun. Saya berpikir apakah ini adalah "efek" dari saya membantu banyak orang? apakah ini adalah "efek" dari saya bersedekah?

Selama ini saya secara rutin beramal, selama ini saya rutin bersedekah.
Selama ini saya menerapkan kepada istri saya untuk membeli gamis baru yang diinginkannya dengan sistem one in, one out, Maksudnya adalah ketika bulan ini dia saya belikan gamis baru, maka gamis lama layak pakai yang dia miliki harus diberikan kepada orang lain untuk disedekahkan.

Bisa saja itu adalah penyebab saya menjadi sukses dikarir Asuransi ini. Sehingga saya mendapatkan formula sedekah, yaitu :

nilai yang kamu sedekahkan di jalan Allah,
maka akan kembali kepadamu berkali lipat senilai itu

Maksudnya gimana? Saya kasih contoh dengan pengalaman saya.
Ketika suatu jumat saya memasukan uang senilai Rp. 5.000,-, secara Hukum Allah ternyata amalan tersebut diganti sama Allah dengan adanya rekan saya mentraktir saya makan malam nasi goreng pada hari yang sama.

Ketika saya bersedekah dengan uang Rp. 100.000,-, Allah menggantinya berkali lipat dengan memudahkan saya mendapatkan nasabah kelas kakap.

Ketika saya bersedekah dengan uang Rp. 100.000,-, Allah menggantinya berkali lipat dengan rejeki dari atasan saya yang kemudian memberikan saya Rp. 1.000.000,- untuk ongkos bensin katanya.

Ketika saya bersedekah dengan uang Rp. 100.000,-, Allah menggantinya berkali lipat dengan diperlancarnya sidang tesis saya.

Masih banyak lagi cerita dari kekuatan sedekah. Bukan maksud untuk riya', yang saya harapkan dari tulisan ini bisa diambil positifnya.

Dan ternyata profesi sebagai Agent Asuransi Syariah yang saya jalani ini adalah jalan saya untuk membantu menyenangkan hati orang banyak. Membantu orang untuk merencanakan perencanaan keuangannya dan meminimalisir dampak dari resiko hidup mereka. Mereka adalah penyemangat saya dibisnis ini.
Istri dan putri kecilku adalah booster saya, saya tidak ingin mengecewakan mereka berdua untuk gagal dibisnis ini.



Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant
Prudential Syariah
081280155666
Follow Instagram


Add Facebook
Follow dan Like Fanspage untuk mendapatkan informasi, tulisan dan penawaran investasi menarik.

0 komentar:

Posting Komentar

Kualitas diri anda tercermin dari tulisan yang anda tuliskan.
Berkomentar yang santun dan saling menghargai pendapat orang lain adalah sikap dari manusia yang berbudi luhur.
Mohon tidak menanamkan link yang tidak berbuhungan dengan topik pembahasan.
Salam
Arief Hidayatullah. SH