ASURANSI SYARIAH HARAM?

BY Arief Hidayatullah IN , , , , , , , No comments



Assalamualaikum, diiringi dengan Bismillah semoga tulisan ini bermanfaat buat teman - teman pembaca dan juga yang telah membagikan tulisan ini. Kali ini saya mengangkat tema terkait Asuransi Syariah, tidak hanya menjadi trend atau gaya hidup nasabah - nasabah muslim, bahkan nasabah saya yang non muslim pun memilih Asuransi Syariah untuk pengelolaan keuangannya. Karena ada banyak kebaikan dan keuntungan yang besar dalam sistem Syariah. Kebanyakan pertanyaan nasabah adalah Asuransi Syariah Halal atau Haram? Dapat saya jelaskan bahwa pengelolaan uang nasabah konvensional dengan syariah itu terpisahkan, tidak boleh disatukan. Dengan cara memisahkan pembukan akuntansinya, jadi perusahaan Asuransi Konvensional mempunyai pembukuan sendiri dan Perusahaan Asuransi Syariah mempunyai pembukuan sendiri begitupun pengelolaannya keuntungan dicatat di buku masing - masing. Apabila perusahaan Asuransi Konvensional membeli instrumen investasi ya harus instrumen yang konvensional, tidak boleh ikut ke syariah begitu juga sebaliknya perusahaan Asuransi Syariah tidak boleh membeli instrumen yang konvensional, harus berfokus pada instrumen Syariah. Yang menjadikan halal atau haramnya investasi di Asuransi adalah bagaimana cara mendapatkannya, begitupula pembukuan dan laporannya.

Pembahasan tentang Asuransi Syariah berikutnya adalah tentang Multiakad dalam Asuransi Syariah. Multiakad atau akad ganda, yaitu penggabungan akad hibah dan akad tijarah (komersial), padahal Nabi melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan. Ada beberapa hadis yang menyebutkan larangan membuat beberapa akad dalam satu akad, antara lain:

Pertama,
Hadis riwayat Ahmad dari Abu Hurairah: “Rasulullah Saw. melarang jual beli dan pinjaman.”

Kedua,
Hadis riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah: “Rasulullah Saw. melarang dua jual beli dalam satu jual beli (bay’atain fi bay’atin)”.

Ketiga,
Hadis riwayat Ahmad dari Ibnu Mas’ud: “Nabi Saw. melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (shafqatain fi shafqatin).”

Keempat,
Hadis riwayat Thabrani dari Hakim Ibnu Hizam: “Nabi saw. telah melarang aku dari empat macam jual-beli yaitu: (1) menggabungkan salaf (jual-beli salam/pesan) dan jual-beli; (2) dua syarat dalam satu jual-beli; (3) menjual apa yang tidak ada pada dirimu; (4) mengambil laba dari apa yang tak kamu jamin [kerugiannya].”

Lalu bagaimana menanggapi hal ini? Untuk menjawab ini, saya mengambil contoh ilustrasi yang disampaikan Ust Erwandi Tarmizi ketika membahas tentang Dana Talangan Haji tahun pada tahun 2013

Dana talangan haji,
seseorang setor 5 juta dijamin berangkat. Institusi menalangi, misal, 20 juta. Apakah uang ini diberikan atau dipinjami (dan harus dikembalikan). Jawabnya : dipinjami. Pertanyaannya, ketika mengembalikan berapa yang jumlah harus dikembalikan? Apakah 20 juta juga, atau lebih? Lebihnya ini sering disebut biaya administrasi, karena ada survei, urusan surat menyurat dll. Pertanyaannya : berapa jumlahnya? Apakah perusahaan ada ambil keuntungan lain. Pastinya, karena dari sana perusahaan bisa bertahan, bayar sewa gedung, gaji karyawan dll. Produk dana talangan haji menggunakan akad pinjaman (QARDH) — boleh, Mekanisme biaya administrasi dll menggunakan akad bisnis/tukar menukar (IJARAH) - boleh

Nah, sejalan dengan hadis di atas, yang tidak boleh adalah MENGGABUNGKAN kedua akad tersebut (Pinjam meminjam dan Jual Beli) atas satu objek. Disampaikan bahwa, tidak semua penggabungan dua akad itu dilarang. Bahkan dua, tiga atau empat akadpun tidak ada masalah. Yang tidak boleh adalah yang ada larangannya. Kembali ke kaidah fiqh : "Dalam muamalah, segala sesuatu diperbolehkan, kecuali ada larangannya"

Jadi,  akad ganda yang dilarang itu adalah akad terhadap objek yang sama. Pelarangan ini dimaksudkan untuk menghindari adanya ketidakjelasan akad, yang bisa membingungkan dan merugikan salah satu pihak. Sebagai contoh: jika saya menyerahkan uang kepada seseorang, harus jelas apakah uang itu pinjaman ataukah pemberian. Dikatakan akad ganda jika suatu saat saya berkata uang itu pemberian, pada saat lain saya berkata uang itu pinjaman. Lalu, Bagaimana dengan AsuransiSyariah ?

Dalam asuransi syariah terdapat dua akad, yaitu akad tabarru (hibah) dan akad tijarah (komersial). Kedua akad ini objeknya berbeda, dan pihak-pihak yang terlibat pun berbeda.

AKAD TABARRU
Objek akad tabarru adalah pengumpulan dana tabarru (hibah) oleh para peserta. Pihak yang terlibat adalah peserta sebagai individu dengan peserta sebagai kumpulan. Peserta sebagai individu menghibahkan sejumlah dana kepada peserta sebagai kumpulan, yang akan digunakan untuk menolong para peserta yang mengalami suatu musibah.

AKAD TIJARAH
Akad tijarah adalah pengelolaan dana tabarru oleh perusahaan asuransi. Pihak yang terlibat adalah peserta (sebagai individu maupun kumpulan) dengan perusahaan asuransi. Akad tijarah yang digunakan adalah akad wakalah bil ujrah (perwakilan, penyerahan wewenang dengan upah).

Jikalau tulisan ini bermanfaat silahkan bagikan, dan apabila ada pertanyaan bisa tanyakan langsung kepada saya atau orang yang membagikan tulisan ini. Barakallah...

(Sumber, Gusnul Pribadi / GP Telegram Channel)

Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant
Prudential Syariah
081280155666
Follow Instagram
Add Facebook
Follow dan Like Fanspage untuk mendapatkan informasi, tulisan dan penawaran investasi menarik

0 komentar:

Posting Komentar

Kualitas diri anda tercermin dari tulisan yang anda tuliskan.
Berkomentar yang santun dan saling menghargai pendapat orang lain adalah sikap dari manusia yang berbudi luhur.
Mohon tidak menanamkan link yang tidak berbuhungan dengan topik pembahasan.
Salam
Arief Hidayatullah. SH