Assalamualaikum, diiringi dengan Bismillah semoga tulisan ini bermanfaat buat teman - teman pembaca dan juga yang telah membagikan tulisan ini. Kali ini saya mengangkat tema terkait Asuransi Syariah, tidak hanya menjadi trend atau gaya hidup nasabah - nasabah muslim, bahkan nasabah saya yang non muslim pun memilih Asuransi Syariah untuk pengelolaan keuangannya. Karena ada banyak kebaikan dan keuntungan yang besar dalam sistem Syariah. Kebanyakan pertanyaan nasabah adalah Asuransi Syariah Halal atau Haram? Dapat saya jelaskan bahwa pengelolaan uang nasabah konvensional dengan syariah itu terpisahkan, tidak boleh disatukan. Dengan cara memisahkan pembukan akuntansinya, jadi perusahaan Asuransi Konvensional mempunyai pembukuan sendiri dan Perusahaan Asuransi Syariah mempunyai pembukuan sendiri begitupun pengelolaannya keuntungan dicatat di buku masing - masing. Apabila perusahaan Asuransi Konvensional membeli instrumen investasi ya harus instrumen yang konvensional, tidak boleh ikut ke syariah begitu juga sebaliknya perusahaan Asuransi Syariah tidak boleh membeli instrumen yang konvensional, harus berfokus pada instrumen Syariah. Yang menjadikan halal atau haramnya investasi di Asuransi adalah bagaimana cara mendapatkannya, begitupula pembukuan dan laporannya.

Pembahasan tentang Asuransi Syariah berikutnya adalah tentang Multiakad dalam Asuransi Syariah. Multiakad atau akad ganda, yaitu penggabungan akad hibah dan akad tijarah (komersial), padahal Nabi melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan. Ada beberapa hadis yang menyebutkan larangan membuat beberapa akad dalam satu akad, antara lain:

Pertama,
Hadis riwayat Ahmad dari Abu Hurairah: “Rasulullah Saw. melarang jual beli dan pinjaman.”

Kedua,
Hadis riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah: “Rasulullah Saw. melarang dua jual beli dalam satu jual beli (bay’atain fi bay’atin)”.

Ketiga,
Hadis riwayat Ahmad dari Ibnu Mas’ud: “Nabi Saw. melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (shafqatain fi shafqatin).”

Keempat,
Hadis riwayat Thabrani dari Hakim Ibnu Hizam: “Nabi saw. telah melarang aku dari empat macam jual-beli yaitu: (1) menggabungkan salaf (jual-beli salam/pesan) dan jual-beli; (2) dua syarat dalam satu jual-beli; (3) menjual apa yang tidak ada pada dirimu; (4) mengambil laba dari apa yang tak kamu jamin [kerugiannya].”

Lalu bagaimana menanggapi hal ini? Untuk menjawab ini, saya mengambil contoh ilustrasi yang disampaikan Ust Erwandi Tarmizi ketika membahas tentang Dana Talangan Haji tahun pada tahun 2013

Dana talangan haji,
seseorang setor 5 juta dijamin berangkat. Institusi menalangi, misal, 20 juta. Apakah uang ini diberikan atau dipinjami (dan harus dikembalikan). Jawabnya : dipinjami. Pertanyaannya, ketika mengembalikan berapa yang jumlah harus dikembalikan? Apakah 20 juta juga, atau lebih? Lebihnya ini sering disebut biaya administrasi, karena ada survei, urusan surat menyurat dll. Pertanyaannya : berapa jumlahnya? Apakah perusahaan ada ambil keuntungan lain. Pastinya, karena dari sana perusahaan bisa bertahan, bayar sewa gedung, gaji karyawan dll. Produk dana talangan haji menggunakan akad pinjaman (QARDH) — boleh, Mekanisme biaya administrasi dll menggunakan akad bisnis/tukar menukar (IJARAH) - boleh

Nah, sejalan dengan hadis di atas, yang tidak boleh adalah MENGGABUNGKAN kedua akad tersebut (Pinjam meminjam dan Jual Beli) atas satu objek. Disampaikan bahwa, tidak semua penggabungan dua akad itu dilarang. Bahkan dua, tiga atau empat akadpun tidak ada masalah. Yang tidak boleh adalah yang ada larangannya. Kembali ke kaidah fiqh : "Dalam muamalah, segala sesuatu diperbolehkan, kecuali ada larangannya"

Jadi,  akad ganda yang dilarang itu adalah akad terhadap objek yang sama. Pelarangan ini dimaksudkan untuk menghindari adanya ketidakjelasan akad, yang bisa membingungkan dan merugikan salah satu pihak. Sebagai contoh: jika saya menyerahkan uang kepada seseorang, harus jelas apakah uang itu pinjaman ataukah pemberian. Dikatakan akad ganda jika suatu saat saya berkata uang itu pemberian, pada saat lain saya berkata uang itu pinjaman. Lalu, Bagaimana dengan AsuransiSyariah ?

Dalam asuransi syariah terdapat dua akad, yaitu akad tabarru (hibah) dan akad tijarah (komersial). Kedua akad ini objeknya berbeda, dan pihak-pihak yang terlibat pun berbeda.

AKAD TABARRU
Objek akad tabarru adalah pengumpulan dana tabarru (hibah) oleh para peserta. Pihak yang terlibat adalah peserta sebagai individu dengan peserta sebagai kumpulan. Peserta sebagai individu menghibahkan sejumlah dana kepada peserta sebagai kumpulan, yang akan digunakan untuk menolong para peserta yang mengalami suatu musibah.

AKAD TIJARAH
Akad tijarah adalah pengelolaan dana tabarru oleh perusahaan asuransi. Pihak yang terlibat adalah peserta (sebagai individu maupun kumpulan) dengan perusahaan asuransi. Akad tijarah yang digunakan adalah akad wakalah bil ujrah (perwakilan, penyerahan wewenang dengan upah).

Jikalau tulisan ini bermanfaat silahkan bagikan, dan apabila ada pertanyaan bisa tanyakan langsung kepada saya atau orang yang membagikan tulisan ini. Barakallah...

(Sumber, Gusnul Pribadi / GP Telegram Channel)

Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant
Prudential Syariah
081280155666
Follow Instagram
Add Facebook
Follow dan Like Fanspage untuk mendapatkan informasi, tulisan dan penawaran investasi menarik

Dengan diawali mengucap Bismillah saya memulai tulisan ini. Assalamualaikum, teman - teman pembaca. Apakah saat ini teman - teman pembaca berprofesi sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil)? Apa sih yang dicari profesi tersebut sehingga ribuan bahkan jutaan orang mendaftar tes untuk masuk menjadi PNS? Beberapa dari kalian pasti akan menjawab :
1. Masa depannya terjamin.
2. Ada uang pensiun dan tunjangannya lumayan.
3. Kerjanya enak dan jelas.
4. Ada kenaikan harga diri sendiri di lingkungan atau bahkan senjata ke calon mertua buat melamar perempuan idaman.
5. Terhindar dari PHK.
Yang saya berikan huruf lebih tebal adalah alasan favorit kebanyakan orang untuk mengambil profesi menjadi PNS, betul kan?

Untuk teman - teman PNS, sudah tau belum asal sumber tunjangan hari tua yang didapat berasal darimana? Sumber dana tunjangan hari tua yang teman - teman PNS dapatkan sebenarnya adalah dari gaji kalian yang perbulannya dipotong sekian persen yang nantinya akan terkumpul sampai usia pensiun. Dengan kata lain tunjangan hari tua yang didapat ya dari diri pribadi sendiri sebenarnya.

Nah sekarang yang jadi pertanyaan adalah apakah pekerjaan teman - teman pembaca sekarang?
Dimana sekarang bekerja dan sebagai apa?
Pasti ada yang menjadi Non PNS. Untuk yang berprofesi sebagai Non PNS, apakah tempat teman - teman bekerja saat ini menyiapkan tunjangan hari tua atau dana pensiun untuk karyawannya? Ada yang menjawab iya dan ada yang menjawab tidak. Yang jadi permasalahan adalah ketika di kantor tempat kerja teman - teman pembaca tidak disertai tunjangan hari tua atau pesangon, yang akan terbebani malah keluarga kita. Saya sudah sering melakukan menjadi pembicara di seminar dan sosialisasi tentang dana pensiun bagi PNS di DKI Jakarta. Dapat saya ambil kesimpulan setelah saya survey dan mengecek berapa besaran nominal yang didapatkan saat pensiun nanti malah membuat mereka kecewa dan khawatir, karena ternyata nominal yang nanti mereka dapat tidak sesuai bayangan manisnya. Dapat saya pastikan bahwa tunjangan hari tua yang di dapat tidak kurang dari Rp. 100.000.000,-. Rata -rata kisaran Rp. 40.000.000,- hingga Rp. 80.000.000,-, tidak lebih dari itu. Yang jadi permasalahannya adalah jika biaya hidup keluarganya menghabiskan Rp. 5.000.000,-/ bulan, bisa dihitung dong jika ada PNS mendapatkan tunjangan hari tua paling besar Rp.80.000.000,- bisa habis dalam berapa lama? Kalau dihitung sih gak akan bisa lebih dari 1½ tahun alias 16 bulan. (untuk PNS yang mau tau berapa kelak tunjangan hari tua yang didapat saat pensiun, bisa hubungi saya. Akan saya bantu "intip" untuk akses kesana)

Bayangkan, mereka mengabdi kepada negara puluhan tahun hanya mendapatkan tunjangan hari tua segitu saja, bisa dibilang itu diluar bayangan manis mereka. Itu yang PNS, bagaimana nasib masa pensiun teman - teman yang bukan PNS yang tidak mendapatkan tunjangan hari tua atau pesangon dari tempat kerjanya? Jawab sendiri yah...
Ada fenomena mengerikan yang terjadi, pernah dengar tentang Burger Generation? Untuk lebih mudahnya saya gambarkan dengan Burger beneran, sambil teman - teman visualisasikan. Burger itu komposisinya adalah atasnya roti, kemudian bagian tengahnya ada daging dan salad, kemudian paling bawah adalah roti. Kita analogikan diri anda sebagai orang tua yang sebentar lagi pensiun adalah roti yang paling atas, kemudian bagian daging dan salad adalah anak kita, dan terakhir roti bagian bawah adalah keluarga dari anak kita (suami / istri dan anak - anaknya). Burger Generation / Generasi Burger adalah suatu keadaan dimana si anak (bagian tengah burger yaitu daging dan salad) harus terbebani atau menghidupi dua keluarga (roti bagian atas dan bawah) yaitu orang tuanya sendiri yang sudah pensiun tanpa penghasilan dan juga dia harus menanggung biaya hidup keluarganya sendiri (suami / istri dan anak - anaknya). Tentu kita tidak mau membebani anak begitu berat bukan? Ya walaupun kembali lagi itu adalah kewajiban seorang anak untuk "gantian mengasuh" orang tuanya. Kalau anda hanya mengandalkan transferan uang dari anak anda, jangan sampai mereka mengucap "ya ampun pak / bu, buat keluarga saya sendiri aja susah apalagi ngasih uang bulanan ke bapak / ibu" (Na'udzubillahi mindzalik). Dan baru - baru ini saya melihat video di youtube tentang kurang baiknya perencanaan keuangan saat pensiun, bukannya menikmati hidup malah terbebani hutang (PENYESALAN PENSIUNAN GURU PNS - Akibat Hutang RIBA). Semoga Allah menjauhkan anak - anak kita dari hal seperti itu juga menjaga kita agar tercukupi sehingga tidak membebani anak - anak kita dan dilindungi dari hutang. Aamiin.

Sebenarnya hal tersebut dapat kita minimalisir dengan adanya bekal yang sangat cukup dari sekarang untuk masa tua nanti, dengan cara memprogramkan dana pensiun sejak sekarang! Dengan adanya uang pensiun kita bisa lega. Saat pensiun adalah saat dimana kita tidak lagi mempunyai penghasilan sementara biaya hidup terus berjalan, itulah pentingnya program dana pensiun yang kita buat. Orang pensiun itu kerjanya ngapain aja sih?
1. Menikmati hidup
2. Jalan - jalan bersama pasangan (puber kedua hehehe :P)
3. Menikmati Hoby (mancing, gosok batu akik, melihara burung, dll)
4. Main dengan cucu
Kurang lebih garis besarnya seperti itu.

Semua kegiatan di atas itu butuh dana, contohnya saat cucu kita nanti main ke rumah kita. Mereka minta dibelikan jajan atau mainan, kalau kita punya uang pensiun yang cukup bisa saja kita belikan apa yang mereka minta dan kita manjakan mereka tanpa rasa khawatir kekurangan uang. Kenapa? karena kita saat pensiun punya uang yang cukup. Pertanyaan saya adalah kita jadi kakek / nenek favorit gak di mata cucu kita kelak? Sudah pasti jawabannya adalah iya, karena kita punya uang yang cukup buat memanjakan mereka. Tapi disini saya tidak mengajarkan untuk menolak pemberian dari anak loh ya, kalau anak transfer uang ya terima saja. Itu akan menjadikan ladang pahala buat anak - anak kita, walaupun tanpa uang transferan tersebut hidup kita sudah tercukupi dari program pensiun yang kita siapkan.

Sehebat - hebatnya manusia, pasti punya rasa lelah, usia tua, masa sakit, dan masa tidak produktif. Akan tiba masanya dimana kita sudah tidak bisa lagi bekerja terlalu keras. Dimasa itu nanti, kita sebaiknya bukan lagi mengandalkan pekerjaan atau usaha, akan tetapi mengandalkan aset yang sudah kita siapkan jauh - jauh hari. Demi masa depan, kita harus memasang ancang - ancang dan merancang agar kita saat pensiun tidak perlu lagi bekerja keras, tapi cukup mengambil dari hasi yang kita sudah persiapkan.

Jadi tidak ada salahnya teman - teman pembaca ngobrol atau konsultasi dulu dengan saya atau kepada orang yang membagikan tulisan ini mengenai perencanaan dana pensiun yang ideal buat teman - teman pembaca. Sekali lagi, anda bisa hubungi saya atau kepada orang yang membagikan tulisan ini ke anda.

Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant
Prudential Syariah
081280155666
Follow Instagram
Add Facebook
Follow dan Like Fanspage untuk mendapatkan informasi, tulisan dan penawaran investasi menarik

Sangat rugi ikut Asuransi, kenapa nilai tunainya tidak sesuai dengan ilustrasi?
Saya perlu memastikan terlebih dahulu kepada teman - teman pembaca bahwa Asuransi itu bukanlah Bank! ya sekali lagi Asuransi bukanlah Bank!

Bank adalah tempat untuk menyimpan uang, sementara Asuransi adalah tempat mengelola uang jangka panjang. Ingat! Asuransi adalah tempat mengelola uang bukan menyimpan uang. Jika teman - teman pembaca merasa rugi ikut Asuransi, sebaiknya kembali lagi kita lihat dari sudut pandang lain. Semua itu ada plus minus nya, jika merasa diuntungkan nabung di Bank ya sah - sah saja. Kalau di Bank tidak ada potongan apapun, suatu waktu mau memasukan uangnya berapapun ya silahkan dan jika mau diambil kapanpun juga bisa. Masukin uang pagi hari, diambil sorenya pada hari yang sama juga bisa. Karena pada dasarnya Bank adalah tempat menyimpan uang, mau jangka pendek dan jangka panjang bisa saja. Banyak orang - orang mempunyai uang banyak di dalam rekening Banknya, namun jika terjadi resiko seperti sakit, meninggal dunia, kecelakaan atau terkena musibah. Maka uang di dalam rekening bisa saja digunakan untuk biaya - biaya tersebut. Mohon maaf biaya kesehatan PASTI SANGAT MAHAL SEKALI.

Bank dengan Asuransi mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kenapa ada nasabah ikut setahun atau dua tahun kemudian uangnya diambil malah tidak sesuai dengan perhitungan bahkan dibawahnya bahkan habis. Untuk informasi teman - teman pembaca, bahwa prinsip dari Asuransi adalah gotong royong atau Risk Sharing atau ta'awun yang dimana jika nasabah terjadi resiko maka akan ditanggung bersama jikalau dalam syariah disebut dana tabaru'. Jika nasabah memilih uangnya disalurkan ke Asuransi, maka uang nasabah tersebut digunakan untuk menanggung resiko dari nasabah yang sedang kena musibah (prinsip Asuransi Syariah) dengan kata lain uangnya digunakan untuk memberikan santunan ke saudaranya yang terkena musibah. Alhamdulillah dengan salah satu alasan tersebut yaitu gotong royong nasabah Asuransi sangat banyak. Dari pegawai negeri, jamaah haji, nelayan dan semua orang di negara maju sudah di Asuransikan.

Asuransi menjadi komoditas untuk negara maju dan orang - orang cerdas dengan mempersiapkan perencanaan untuk masa depan. Kalau masih ada yang berpikir "wah saya lebih baik nabung di Bank saja", ya silahkan saja itu hak teman - teman pembaca. Apakah itu untuk menyimpan uang jangka pendek, panjang, program pensiun dan lain - lain. Tapi yang teman - teman pembaca perlu tahu adalah kalian bisa saja sakit, kena musibah, resiko atau kecelakaan dan pada saat itu teman - teman pembaca ingat tentang Asuransi. Jika ada yang masih berpikir untuk ikut Asuransi setahun / dua tahun lebih baik jangan, karena sudah dipastikan akan merugikan teman - teman pembaca sehingga memarahi Agent Asuransi, menuntut perusahaan Asuransi, datang ke kantornya dengan teriak - teriak serta memukul meja. Jika masih ada teman - teman pembaca ikut Asuransi, perlu dipikirkan lagi karena ikut Asuransi itu rugi! Hanya ikut setahun sampai lima tahun, sudah dipastikan rugi! Namun jika ikut sesuai perjanjian atau kontrak selama sepuluh sampai lima belas tahun maka bisa saja mendapatkan keuntungan.

Loh! Gak salah itu selama sepuluh sampai lima belas tahun? Lama banget!
Jadi gini, tau ya PNS (Pegawai Negeri Sipili), kenapa mereka mempunyai dana pensiun dan tunjangan hari tua? Uang tersebut bukanlah diberikan dari Pemerintah! Melainkan dari gaji PNS tersebut yang dipotong setiap bulannya sampai mereka pensiun. Untuk temen - temen pembaca yang Non PNS, berarti kan tidak mempunyai uang pensiun ya? Mulai dari sekarang kelola uang pensiun itu sendiri, sehingga masuk ke usia pensiun pun walaupun teman - teman pembaca Non PNS bisa mempunyai uang pensiun dan tunjangan hari tuanya sendiri. Gak ada yang instan! Harus jangka panjang dan disiplin menabung, sisihkan uang dan kelola uangnya sendiri. Cerdas ya? Maka dari itu saya katakan program ini adalah untuk orang - orang cerdas.

Mau ada biaya kuliah anak? Ya harus nabung.
Mau ada dana pensiun? ya harus disiplin menyisihkan uangnya.
Mau beli rumah? Ya nabung.

Jadi jika sudah menentukan untuk berperilaku disiplin sisihkan uang dan nabung, teman - teman pembaca tinggal pilih mau di Bank atau Asuransi. Kalau saran saya ikut program Asuransi, kenapa? Karena untuk jangka panjang, meminimalisir resiko uang kita habis karena biaya tindakan kesehatan dan bisa terkena resiko hidup kapan saja sehingga resiko tersebut bisa dibagi ke nasabah lainnya.

Jika teman - teman pembaca menyadari pentingnya Asuransi, segera hubungi orang - orang yang membagikan tulisan ini. Silahkan tanyakan kepada mereka prosesnya seperti apa dan detailnya bagaimana. Orang - orang yang menyebarkan tulisan ini adalah orang yang peduli terhadap masa depan dan kehidupan teman - teman pembaca.

Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant
Prudential Syariah
081280155666
Follow Instagram
Add Facebook
Follow dan Like Fanspage untuk mendapatkan informasi, tulisan dan penawaran investasi menarik


Sebenarnya konsep asuransi Islam bukanlah hal baru, karena sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW yang disebut dengan Aqilah. Bahkan menurut Thomas Patrick dalam bukunya Dictionary of Islam, hal ini sudah menjadi kebiasaan suku Arab sejak zaman dulu bahwa, jika ada salah satu anggota suku yang terbunuh oleh anggota dari suku lain lain, pewaris korban akan dibayar sejumlah uang darah (diyat) sebagai kompensasi oleh saudara terdekat dari pembunuh. Saudara terdekat pembunuh tersebut yang disebut Aqilah, harus membayar uang darah atas nama pembunuh.

Menurut Dr. Muhammad Muhsin Khan, kata Aqilah berarti Asabah yang menunjukkan hubungan ayah dengan pembunuh. Oleh karena itu, ide pokok dari Aqilah adalah suku Arab zaman dulu harus siap untuk melakukan kontribusi finansial atas nama pembunuh untuk membayar pewaris korban. Kesiapan untuk membayar kontribusi keuangan sama dengan premi praktek asuransi sementara kompensasi yang dibayar berdasarkan al-Aqilah mungkin sama dengan nilai pertanggungan dalam praktek asuransi sekarang, karena itu merupakan bentuk perlindungan finansial untuk pewaris terhadap kematian yang tidak diharapkan dari sang korban.

Pada perkembangan selanjutnya, kata Syaekh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, dengan datangnya Islam,sistem Aqilah diterima oleh Rasulullah SAW menjadi bagian dari hukum Islam hal tersebut dapat dilihat pada hadits Nabi dalam pertengkaran antara dua wanita dari suku Husail

“Diriwayatkan oleh Abu Hanifah yang mengatakan: pernah dua wanita dari suku Huzail bertikai ketika seorang dari mereka memukul yang lain dengan batu yang mengakibatkan kematian wanita itu dan jabang bayi dalam rahimnya. Pewaris korban membawa kejadian itu ke pengadilan Nabi Muhammad SAW yang memberikan keputusan bahwa kompensasi bagi pembunuh anak bayi adalah membebaskan seorang budak laki-laki atau perempuan sedangkan kompensasi atas membunuh wanita adalah uang darah (diyat) yang harus dibayar oleh Aqilah (saudara pihak ayah) dari yang tertuduh.

Murtadha Mutahhari, ketika menjelaskan tentang ad-Diyat ala al-Aqilahmengatakan. Anda mungkin pernah mendengar ungkapan: Ad-Diyah ala Al-Aqilah yang merupakan ungkapan yang sangat masyhur. Sebagian orang mengira bahwa kata Aqilah berasal dari kata aql (akal), sehingga ungkapan itu diartikan denda yang dibebankan kepada orang yang berakal (sudah dewasa). Padahal tidak demikian, melainkan Aqilah merupakan istilah tersendiri. Didalam bahasa Arab, di antara makna alaql adalah denda dan al `aqil adalah orang yang membayar denda.

Dalam beberapa kasus Islam membebankan denda asuransi kepada orang lain (bukan yang melakukan pelanggaran). Namun didalam ad-Diyah, yang menjadi sebab adalah bukan kesengajaan, melainkan karena kekeliruan. Apabila ad-Diyah itu disebabkan kesengajaan, maka tidak ada asuransi yang memikul tanggung jawab ini. Karena itu disyaratkan agar kerusakan itu tidak disebabkan kesengajaan. Di dalam masalah ad-Diyah, para ulama mengatakan, “wajib membayar denda terhadap sebagian kerusakan yang disebabkan kekeliruan seperti pembunuhan atau melukai karena kekeliruan atau kelalaian”.

MM Billah dalam disertasi doktornya mengatakan bahwa piagam (konstitusi ) Madinah, Konstitusi pertama didunia yang dipersiapkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah, didalam beberapa pasalnya memuat ketentuan tentang asuransi sosial dengan sistem Aqilah. Dalam pasal 3 Konstitusi Madinah: Rasul SAW membuat ketentuan mengenai penyelamatan jiwa para tawanan, yang menyatakan bahwa jika tawanan yang tertahan oleh musuh karena perang harus membayar tebusan kepada musuh untuk membebaskan yang ditawan. Konstitusi tersebut merupakan bentuk lain dari asuransi sosial

“Imigran diantara Quraish harus bertanggung jawab untuk membebaskan tawanan dengan cara membayar mereka tebusan supaya kolaborasi yang saling menguntungkan di antara orang-orang yang percaya sejalan dengan prinsip kebaikan dan keadilan”.

Sumber : Telegram GP

Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant
Prudential Syariah
081280155666
Follow Instagram
Add Facebook


Hati - hati ikut Asuransi! Bahayanya apalagi klaim yang anda akan ajukan ditolak!
Kenapa itu bisa terjadi?
Kenapa klaim Asuransi itu ditolak?
Saya ingatkan untuk rekan - rekan, tidak semua klaim yang diajukan bisa disetujui. Ada kondisi - kondisi tertentu yang menyebabkan klaim anda sebagai nasabah ditolak alias tidak dibayarkan. Jangan berpikir bahwa pihak Asuransi akan menyetujui permohonan klaim anda. Perlu digaris bawahi, bahwa perusahaan Asuransi bukanlah lembaga sosial yang selalu semua klaim bakal diterima.

Perusahaan Asuransi mempunyai tabel mortalita yang dimana ada tabel untuk menghitung biaya asuransi, yang dimana apabila ada kondisi yang tidak bisa terpenuhi standard atau aturan di buku polis maka klaim sudah dipastikan tidak akan dibayarkan. Namun sebaliknya, apabila kondisi tersebut sesuai dengan aturan di buku polis maka Asuransi akan membayarkan klaim anda. Sekali lagi saya katakan PASTI! DIBAYARKAN KLAIMnya apabila sesuai dengan aturan.

Dapat saya sebutkan beberapa alasan yang membuat banyak nasabah mengeluh klaimnya tidak dibayarkan. Adanya kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalkan anda sudah ada penyakit yang diderita yang kemudian teman - teman pembaca mendaftar di Asuransi. Saat pengisian formulir ada beberapa pertanyaan seperti :
1. Apakah pernah ada riwayat sakit?
2. Apakah pernah dirawat untuk penyakit X?
3. dan lain - lain

Jika teman - teman pembaca menjawabnya adalah TIDAK, padahal teman - teman mempunyai kondisi yang sudah ada sebelum pembuatan Polis itupun tidak masalah. Perusahaan Asuransi akan tetap percaya kepada teman - teman pembaca. Namun apabila terjadi resiko, Perusahaan Asuransi akan berusaha membayarkan klaim dengan sangat baik. INGAT! Perusahaan Asuransi tidak pernah mencari cara agar klaim nasabahnya bisa tidak dibayarkan, mereka malah akan berusaha sebaik - baiknya membayarkan dengan cara yang baik dan benar. Mereka tidak mau salah membayar klaim, bukan tidak mau membayar klaim.

Bagaimana caranya untuk meminimalisir itu? Yuk jadilah tenaga pemasar dan perencana keuangan / financial consultant atau menjadi nasabah yang cerdas. Mau teman - teman pembaca ikut Asuransi manapun entah itu Asuransi aset, mobil atau jiwa maka bacalah Polis Asuransinya! Disana ada perjanjian mengikat anntara Perusahaan Asuransi dengan teman - teman pembaca. Apabila terjadi sengketa atau masalah, maka buku polis itu menjadi dasar teman - teman pembaca untuk mengajukan klaim. Kalau ada dari teman - teman nasabah bertanya "loh kenapa tenaga pemasarnya tidak menjelaskan semua isi dari buku polis saya?". Jadi begini saya berikan analogi atau gambaran, apabila teman - teman pembaca bekerja di suatu perusahaan yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun.

1. Apakah perusahaan tersebut memberikan santunan kepada ahli waris apabila anda tutup usia?
2. Berapakah santunan yang diberikan kantor tersebut?

Saya yakin teman - teman pembaca tidak bisa menjawab seketika itu juga, kalian harus membaca kembali peraturannya, undang - undangnya, dan sebagainya sampailah pada perusahaan teman - teman pembaca membayarkan santunan tersebut. Apabila anda tidak mengetahui aturannya dan berusaha menjelek - jelekan perusahaan tersebut apalagi diposting di media sosial, saya yakin malah teman - teman pembacalah yang terkena masalah hukum "pencemaran nama baik melalui UU ITE". Negara Indonesia adalah negara hukum, pasti ada aturan yang mengatur kita.

Bukanlah teman - teman tenaga pemasar dan perencana keuangan / financial consultant tidak mau menjelaskan isi dari buku polis pada saat itu juga. Buku itu bentuknya sangat besar juga tebal. Contoh misal teman - teman pembaca terkena serangan jantung dan masuk rumah sakit, bukan berarti karena disebut serangan jantung klaim akan dibayarkan. Disana ada beberapa kriteria seperti terjadi penyumbatan akan dibayarkan sekian persen, kerusakan jantung dibayarkan sekian persen. Itu semua (buku polis) dasar untuk membayarkan klaim. Sehingga banyak orang - orang bilang "wah jangan ikut Asuransi, nanti kalau mau klaim bakal dipersulit", saya pastikan kepada teman - teman pembaca bahwa Perusahaan Asuransi tidak akan pernah menyulitkan teman - teman pembaca. Perusahaan Asuransi akan membayarkan klaim sesuai dengan Standard Operasionalnya, mau membawa pengacara seribu orang pun jika teman - teman menutupi atau membohongi kondisinya maka klaim akan dipersulit bahkan tidak akan dibayarkan. Maka dari itu bantulah tenaga pemasarnya atau perencana keuangan / financial consultantnya dengan cara membaca buku polis sendiri.

Janganlah ragu untuk teman - teman pembaca untuk "bawel" kepada tenaga pemasarnya atau perencana keuangan / financial consultantnya. Jadilah nasabah cerdas! Jangan mengambil Asuransi karena tidak enak kepada tenaga pemasarnya atau perencana keuangan / financial consultantnya. Justur bagus ketika teman - teman pembaca berdebat bahkan sampai "perang" dengan tenaga pemasarnya atau perencana keuangan / financial consultantnya diawal, ketimbang anda tidak mengerti kondisi - kondisi tersebut. Kalau diperusahaan Asuransi saya, nasabah mendapatkan hak yang kami sebut free look. Yang dimana nasabah tersebut diberikan hak sampai 2 minggu untuk melihat, membaca dan mengerti isi dari buku polisnya. Apabila teman - teman pembaca tidak nyaman atau tidak sepakat dengan isi dari buku Polis tersebut, maka teman - teman pembaca berhak membatalkan perjanjian Asuransinya. Jadi... Jangan mau kalah dengan negara - negara lain yang sudah maju, mereka tidak ada yang berdebat mengenai Asuransi, mereka sudah paham dengan Asuransi bahkan mewajibkan untuk memilikinya.

Sekali lagi himbauan untuk teman - teman pembaca tulisan ini agar membaca kembali buku polisnya, sehingga bisa mengetahui kondisi - kondisi yang klaim bisa dibayarkan atau tidak dibayarkan. Dapat saya tambahkan informasi dan saya tekankan bahwa ada beberapa contoh klaim tidak bisa dibayarkan untuk manfaat kesehatan, antara lain :
1. Semua hal yang berhubungan dengan melahirkan;
2. Semua hal yang berkaitan dengan kecantikan;
3. Semua hal yang berkaitan dengan gigi. Entah cabut gigi, pasang behel atau merapihkan struktur gigi;
4. Yang berkaitan denngan pelanggaran hukum;
5. Kondisi yang sudah ada sebelumnya.
5 poin di atas yang paling sering ditanyakan kepada saya. Justru saya sendiri yang suka "menantang" nasabah saya untuk mengajukan pertanyaan kepada saya, agar meminimalisir kesalahpahaman.

Saya ingatkan Asuransi adalah gaya hidup orang cerdas dan berpikir masa depan. Asuransi bukanlah lembaga sosial yang membayarkan klaim dengan gampangnya. Asuransi bukanlah tempat untuk menyimpan uang jangka pendek. Asuransi adalah tempat berinvestasi jangka panjang.


Arief Hidayatullah, SH, MH
Financial Consultant
Prudential Syariah
081280155666
Follow Instagram
Add Facebook